Perbandingan Agama dalam Novel “Embun di Atas Daun Maple”

Iman bukan sekadar pernyataan cinta sebatas lidah bersyahadat

Ia meminta hati luruh dalam taat penuh syahdu

Ia menagih kesungguhan gerak tubuh tanpa mengeluh

Ia membutuhkan ilmu sehingga tiap detik laksana pengantin yang merasakan madu

(Mevlana, 2014)

Cov-Embun-diatas-Daun-Maple-FRONT

Judul: Embun di Atas Daun Maple

Penulis: Hadis Mevlana

Tebal: x + 286 halaman

ISBN: 978-602-9211-72-6

Penerbit: Tinta Medina, Solo

Cetakan: I, September 2014

Realitas bahwa ada banyak agama yang diyakini manusia memang tak terelakkan. Dalam menyikapi fakta pluralitas itu diperlukan sebuah disipilin ilmu yang kemudian dikenal dengan sebutan studi perbandingan agama. Terlepas dari fenomena studi perbandingan agama yang belakangan ini sering ditarik ke arah kepentingan para pengusung sekularisme, pluralisme, dan liberalisme, tetap perlu ada dari kalangan kaum muslimin hanif yang menguasasi disiplin studi tersebut.  Untuk era saat ini, barangkali kita mengenal sosok Ahmad Deedat atau Zakir Naik. Nama terakhir itu bahkan sekarang sedang menjadi buah bibir masyarakat dunia. Akan tetapi, di sini saya tidak akan bercerita detail tentang seluk-beluk perbandingan agama. Saya hanya akan berbagai catatan tentang sebuah novel bergizi yang sarat pelajaran berharga di bidang perbandingan agama. Adalah novel karya Hadis Mevlana berjudul Embun di Atas Daun Maple yang saya maksud.

Sinopsis

Kisah novel ini bermula dengan adegan perkenalan antara dua tokoh utama, Sofyan dan Kiara. Sofyan adalah mahasiswa muslim asal Indonesia penerima beasiswa S2 Ekonomi di Universitas Saskatoon. Sementara Kiara merupakan mahasiswi Kristen Orthodox berdarah Rusia-Aceh yang tengah studi S2 Sastra dan Budaya di universitas yang sama. Perkenalan ini berlanjut dalam diskusi-diskusi (juga debat) hingga diam-diam Kiara menaruh hati kepada Sofyan. Hal itu salah satunya disebabkan oleh kecerdasan dan kesantunan Sofyan setiap keduanya terlibat adu argumen seputar perbandingan agama keduanya. Di saat yang sama, muncul pula paket bunga mawar putih beserta puisi yang rutin menyambangi kamar Sofyan. Hingga akhir cerita misteri pengirim mawar berpuisi itu belum terkuak.

Di sela diskusi Sofyan-Kiara dan cerita tentang keluarga Sofyan, ada kisah Sofyan bersama Moses Ioachim dan Ioassaf Hezron Efharisto di kesempatan lain. Belakangan diketahui bahwa keduanya masih famili Kiara. Lagi-lagi, diskursus seputar perbandingan agama menjadi santapan dialog di antara mereka.

Di akhir cerita dikisahkan bahwa Kiara menghadap Sofyan dan menyatakan perasaannya. Belum sempat Sofyan merespons “tembakan” itu, Kiara lanjut mengutarakan keinginannya untuk memeluk agama Islam. Spontan Sofyan mensyukuri anugerah hidayah yang hadir itu, meskipun sebelumnya ia meragukan niat Kiara masuk Islam. Kemudian, pada jelang hari peresmian keislaman Kiara di The Islamic Centre Saskatoon, petunjuk baru nan mengaburkan seputar pengirim mawar berpuisi itu hadir lagi. Sayangnya, novel ini sengaja diakhiri sampai titik ini. Alhasil, penulis seakan sengaja membuat ending menggantung yang bisa jadi bakal dilajutkan kisahnya pada sekuel novel berikutnya.

Apresiasi dan Kritik

Sebagaimana tertera dalam judul catatan ini, saya pikir novel ini layak disebut sebagai novel perbandingan agama. Pemaparan cerita dan dialog antar tokoh dalam novel didominasi wacana perbandingan agama. Beberapa bab dalam novel diangkat dari tema wacana perbandingan agama, misalnya: Diskriminasi Tuhan untuk Wanita Haid (Bab 6), Hari Raya Ibrahim (Bab 11), dan Diskriminasi Harta Waris untuk Wanita (Bab 14). Dengan demikian, posisi tawar novel ini jelas dan cukup unik. Barangkali belum banyak—atau malah belum ada—novel sejenis yang tema ini sebagai fokus cerita.

Tidak sekadar menyajikan argumen demi argumen secara polos, kelebihan novel ini ialah pelajaran seputar perbandingan agama dibuat mengalir bersama kehidupan para tokoh cerita. Sekali lagi, ini menjadikan novel setebal 286 halaman memiliki bargaining position tersendiri di hati pembaca. Saya kira poin ini yang menjadi salah satu alasan kuat Embun di Atas Daun Maple mendapat anugerah sebagai salah satu buku fiksi terbaik pada gelaran Indonesian Book Fair 2016.

Namun demikian, tak ada gading yang tak retak. Saya yakin peribahasa itu benar adanya. Kelebihan yang saya uraikan pada bagian sebelumnya pada sisi lain bisa menjadi kekurangan juga. Ya, bagi sebagian kalangan muda mungkin tema perbandingan agama terkesan kurang menarik dan tidak sesuai kebutuhan. Selain itu, ada satu kekurangan yang paling mencolok menurut saya, yaitu pada halaman 25 dan halaman 28. Tidak ada catatan kaki atau sejenisnya yang fungsinya sebagai terjemahan bahasa daerah ke Bahasa Indonesia dari surat Noor ‘Aini (adik Sofyan) dan balasan dari Sofyan pada dua halaman tersebut.

Jika mau dikuliti lagi, tentu mudah saja menemukan kekurangan demi kekurangan lain dalam novel ini, misalnya dari sisi teknik dialog antar tokoh, pendalaman karakter tokoh, dan sebagainya. Begitulah sifat manusia umumnya, mudah mencari kesalahan orang lain. Oleh karena itu, terlepas dari kelemahan yang ada, Hadis Mevlana sudah melampaui kebanyakan pembaca. Dia sudah beranjak menjadi pembaca dan penulis sekaligus. Mustahil konten perbandingan agama didapat tanpa riset yang dalam. Hebatnya, ia kemudian berhasil menyulapnya menjadi sebuah novel unik ini. Akhir kata, bagi Anda yang hendak mendapat kekayaan khazanah seputar perbandingan agama, saya sarankan untuk membaca novel ini dengan saksama. Selamat membaca.