Perjalanan Cinta dalam “Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea”

Ada hal spesial pada libur Lebaran tahun ini, salah satunya ialah kemunculan film Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (selanjutnya disingkat: JTLSK). Film yang diadaptasi dari novel laris karya Asma Nadia berjudul Jilbab Traveler ini akan resmi tayang di bioskop pada 5 Juli 2016 mendatang. Apa saja hal penting dan menarik yang bisa kita dapat dari film besutan sutradara Guntur Soeharjanto ini? Berikut kilas sinopsis dan ulasan film JTLSK.

jilbab traveler

Perjalanan Cinta Rania

Jadilah Ibnu Batutah buat Ayah. Jadilah kaki dan mata bagi Ayah dan Ibu untuk melihat dunia yang luas. Demikian kurang lebih sepenggal pesan yang memacu Rania Timur Samudra (Bunga Citra Lestari) untuk menjadi seorang jilbab traveler. Banyak negara di beberapa benua sudah disinggahi Rania dalam perjalannya. Jiwa petualang muslim kesohor Ibnu Batutah seperti hidup dalam diri Rania.

Hingga pada suatu hari Rania diminta ayahnya yang sedang sakit keras untuk mengunjungi Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Di Baluran itulah ayah dan ibu Rania dulu bertemu, jatuh cinta, dan akhirnya menikah. Sang Ayah berharap Rania bisa menemukan makna perjalanannya selama ini di Baluran. Malang tak dapat dicegah, ayah Rania meninggal dunia saat Rania mengantar teman baru asal Korea yang ditemuinya di Baluran, Hyun Geun (Morgan Oey) beserta sahabatnya, dan Alvin (Ringgo Agus Rahman), mengunjungi Kawah Ijen.

Perasaan terpukul dan menyesal meliputi Rania setelah kematian Ayah. Rania juga merasa bersalah lantaran dirinya bukannya mendampingi Ayah di akhir hayat, melainkan asyik dengan dunianya sendiri. Karena itu, Rania memutuskan untuk menghentikan mimpinya menjelajah dunia sebagaimana arahan almarhum Ayah.

Teman lelakinya, Ilhan (Giring Ganesha) kemudian mengajak Rania bergabung dalam “Sekolah Ibu Pintar” yang berisikan para ibu yang berpendidikan rendah. Di tempat baru ini Rania ternyata berhasil memompa semangat para peserta sekolah alternatif itu untuk giat belajar tanpa memandang usia dan status sosial. Tak pelak itu membuat Ilhan yang mencintai Rania dalam diam makin mengkristalkan perasaannya.

Tibalah saat sebuah surat undangan datang “menggoda” Rania. Surat itu berisi pemberitahuan sekaligus undangan kepada Rania sebagai seorang penulis perjalanan (traveler writer) untuk ikut dalam program Writers in Residence di Korea Selatan. Tentu Rania dibuat galau oleh kedatangan surat undangan itu. Meski pada awalnya Rania tegas menolak, justru Ibu mendorong Rania untuk memenuhi undangan tersebut. Tak tanggung-tanggung, ibunya juga menegaskan serta mengungkit-ungkit pesan Ayah agar Rania menjadi Ibnu Batutah untuk kedua orang tuanya. Setelah melalui proses lobi Ibu dan mendapat izin “setengah hati” dari Ilhan, terbanglah Rania ke Korea.

Kuasa Allah pun mempertemukan kembali Rania dengan Hyun Geun di Negeri Ginseng. Pria Korea yang dikenalnya di Baluran itu ternyata serius menaruh hati pada Rania. Begitu juga Rania yang dalam sepi punya perasaan yang sama. Tapi, Rania tahu diri dengan posisinya yang telanjur memberi “lampu kuning” untuk Ilhan. Rania pun memilih menjaga diri dan perilakunya di hadapan Hyun Geun.

Seiring waktu berjalan, satu persatu rahasia seputar identitas dan masa lalu Hyun Geun terkuak. Di saat yang sama, didorong oleh keinginan yang kuat menyunting sang pujaan hati, Ilhan terbang melawan rasa takutnya demi menyusul Rania. Lantas bagaimana akhir perjalanan cinta Rania? Siapa yang Rania pilih: Ilhan atau Hyun Geun? Saya kira tidak bijak kalau saya membeberkan keseluruhannya saat ini dan di sini.

 

Film Romantis Berpesan Manis

Bagi saya, film JTLSK ini tergolong film romantis lagi mengandung pesan yang manis. Sedari scene awal nuansa keharmonisan keluarga; perlunya menggantungkan cita-cita setinggi langit; melawan keterbatasan dengan belajar; dan semisalnya nyata tertangkap melalui adegan maupun penuturan para tokoh. Tak berhenti sampai di sana, gelombang pesan manis lainnya juga bertebaran hingga akhir scene jika kita mampu menangkapnya.

Adapun sisi romantis film ini tentu saja erat kaitannya kisah cinta yang berkelindan di antara tiga insan: Hyun Geun, Rania, dan Ilhan. Selain itu, romantisme JTLSK saya kira juga banyak dikuatkan oleh latar negeri Korea di musim gugur yang bersalju. Tentu bagi pencinta drama Korea adegan dengan latar demikian sudah cukup membuat larut suasana hati. Saya yang notabene bukan (atau belum, ya? hehe..) termasuk pencinta drama Korea amat mengapresiasi penetapan latar yang cocok dengan tema film ini.

Akhirnya, saya pikir JTLSK patut menjadi salah satu pilihan hiburan edukatif bagi masyarakat Indonesia secara umum, khususnya para remaja atau pemuda. Selain nilai-nilai positif seperti sudah disinggung sebelumnya, ada pelajaran berharga tentang cinta dari film ini. Walaupun pada dasarnya makna cinta itu amat luas, setidaknya film ini mengajarkan kita salah satu jenis cinta yang biasa mulai berbunga di kalangan kaum muda. Terlepas dari sedikit-banyak kekurangan JTLSK, saya pribadi menggaris bawahi beberapa pelajaran berharga dalam film ini. Lalu, tunggu apa lagi? Segera atur waktu terbaik untuk menonton bersama kerabat dan orang-orang tercinta Anda. Semoga bermanfaat.

Pancoran, 30/6/2016

Oleh : Nur Afilin