Begini Pribadi Habibie

Lama tak berkunjung ke Museum Mandiri, akhirnya Ahad (7/8/2016) sekitar jam 9.30 aku kembali menjejakkan kaki di gedung yang terletak tepat di seberang halte busway Jakarta Kota, Jakarta Barat itu. Tahukah kamu untuk apa aku di akhir pekan menyambangi Museum Mandiri? Yap, apalagi kalau bukan menghadiri diskusi publik dan bincang buku “Habibie: The Series” yang digelar oleh paguyuban komunitas berjuluk Friends of Mandiri Museum. Tapi, pada praktiknya Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Jakarta sepertinya memegang hampir semua—jika tidak ingin dikatakan seluruhnya—kendali acara yang bertempat di Ruang Aula Besar Museum Mandiri tersebut. Selamat dan semangat, FLP Jakarta! Sekitar pukul 10.45 kursi peserta mulai penuh dan acara pun dibuka oleh duo pembawa acara Hazana Itriya dan Ervan Joniawan. Oh ya, sebagai informasi, bahwa ada dua sesi diskusi dalam gelaran acara yang diadakan untuk memperingati 80 tahun usia Prof. Dr.-Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng. Nah, tulisan ini hanya sekilas menyampaikan kembali poin-poin penting pada diskusi sesi pertama yang bertajuk “Kunci Sukses Eyang Bangsa: Mengulik Kepribadian Eyang Habibie dalam Meraih Sukses”. Usai seremonial pembukaan, giliran Budi Trinovari selaku Kepala Museum Mandiri memberikan sambutannya. Dengan setelan pakaian kaos polo yang dimasukkan, celana bahan, dan topi ala cowboy, Budi menjelaskan maksud diadakannya acara diskusi publik bincang buku itu. Intinya, menurut dia, bahwa Habibie sebagai Bapak Bangsa memang menjadi salah satu tokoh yang penting untuk diteladani. Dia berharap, melalui kegiatan tersebut, masyarakat makin mengenal Habibie. Tak lupa Budi juga membeberkan beberapa fakta menarik tentang Museum Mandiri. Tahukah kamu, ternyata museum ini merupakan bangunan dengan fasilitas modern pertama yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda? Dia mencontohkan, lift yang ada di sana, adalah yang pertama digunakan di Indonesia. Belum lagi arsitektur, bahan bangunan, dan sebagainya yang memang menjadi pelopor bangunan modern di negeri ini. Luar biasa, bukan? Baiklah, tanpa berpanjang kalam lagi, tibalah saatnya memasuki acara inti. Setelah Boim Lebon sebagai moderator memberi pengantar dan menghangatkan suasana dengan canda khasnya, dua narasumber pun dihadirkan ke atas panggung. Mereka adalah Andi Makmur Makka (The Habibie Centre, penulis, dan Eks Pemred Republika) dan Sutanto Sastraredja (Dosen UNS dan anggota tim penulis buku Habibie: The Series). [caption id="attachment_592" align="alignnone" width="960"]Diskusi Publik Habibie Dok.: Elenra Agustina[/caption] “Pak Habibie itu memiliki kemampuan analitis yang luar biasa. Artinya, beliau tidak sekadar hafal, tapi juga mampu menganalisis persoalan dari data-data yang diketahuinya,” kata Andi Makmur Makka. Adapun detail kepribadian Habibie, tambah Andi, sudah diungkap dengan apik dalam buku Habibie: The Series yang diterbitkan oleh Penerbit Tiga Serangkai. Seri buku itu ditulis dengan bahasa enteng dan populer sehingga tidak mengerutkan dahi para pembaca. “Setiap 10 tahun saya memang selalu menulis buku surprise untuk Pak Habibie. Kali ini, saya bersama kawan-kawan lainnya membuat 8 seri buku untuk Pak Habibie yang sudah berusia 80 tahun,” lanjutnya. Sementara itu, Sutanto Sastrareja menyebut, Habibie memiliki tiga modal penting untuk menjadi orang besar: financial capital, psychological capital, dan socio capital. “Tidak cukup hanya punya uang saja. Sebaliknya, faktor psikologis (kekuatan mental) dan kemampuan bersosialisasi menjadi faktor yang dominan dalam kesuksesan Pak Habibie,” terang Sutanto. Senada dengan Andi, Sutanto juga menyebut Habibie tidak hanya memiliki kemampuan deskriptif, tetapi juga keterampilan berpikir analitis di atas rata-rata. “Hanya dalam waktu 512 hari alias 17 bulan menjabat sebagai presiden, Pak Habibie berhasil membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 12,5 persen dari yang sebelumnya -7,7 persen,” jelasnya. Selesai pemaparan dari kedua narasumber, Boim menyilakan para hadirin mengajukan pertanyaan atau tanggapannya. Alhasil, beberapa peserta tampak “kecewa” lantaran tidak mendapat kesempatan bertanya. Ya iya lah, waktunya terbatas, coy! Begitu pula ketika sesi kuis seputar topik diskusi sesi pertama. Lagi-lagi ini membuktikan antusiasme yang tinggi dari para peserta yang hadir. Tak ayal sesi pertama itu disudahi dengan diiringi kasak-kusuk beberapa orang yang masih “kecewa” sekitar pukul 12.15. Sebagai penutup, saya ingin mengutip pernyataan Sutanto yang menjadi judul buku satu dalam serial Habibie: The Series, yakni: Jangan Pernah Berhenti (Jadi) Habibie! Bagi saya, frasa itu bisa dimaknai sebagai dua hal yang saling terkait satu sama lain. Pertama, ia adalah bentuk dukungan moral kepada Eyang Habibie untuk tetap berkarya dan menebar inspirasi meskipun sudah berusia lanjut. Kedua, kita sebagai cucu-cucu intelektual—begitu Eyang Habibie biasa menyebut kaum muda Indonesia—dari Presiden Ketiga RI itu perlu terus belajar dan berupaya menjadi “Habibie-Habibie” masa depan. Semoga. Pancoran, 12 Agustus 2016