Di Balik Umar bin Abdul Aziz

Siapa tak kenal Umar bin Abdul Aziz? Sebagaimana menjadi kesepakatan (ijma’) ulama, Umar adalah mujaddid (pembaharu) pertama dalam sejarah Islam. Khalifah yang berkuasa pada zaman Daulah Umayyah ini berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam waktu hanya dua tahun pemerintahannya. Islam yang nampak kusam kembali indah dipandang hingga membentang luas dari Spanyol hingga Cina di bawah kepimpinanan cucu Umar bin Khattab itu. Tapi, tahukah kita sosok di balik khalifah berjuluk “khulafaur rasyidin ke-5” tersebut?

Adalah Raja’ bin Haywah tokoh sentral yang mengantarkan Umar bin Abdul Aziz menjadi seorang amirul mukminin. Pernahkan Anda mendengar nama itu? Nampaknya, amat sedikit kaum muslimin zaman sekarang yang mengenalnya. Padahal, nama Raja’ amat masyhur di kalangan ulama dan masyarakat luas pada masa itu. Nah, supaya tidak terus-terusan buta sejarah, mari mengenal lebih dekat sosok Raja’ bin Haywah. 

Siapakah Raja’ bin Haywah?     

Coba simak testimoni beberapa ulama kenamaan dan tokoh muslim lainnya tentang Raja’ bin Haywah berikut ini:

Raja’ bin Haywah adalah ahli dan penutur sejarah” (Imam Al-Bukhari dalam At-Tarikh al-Kabir)

Para penguasa (khalifah) sangat mengakui keulamaan, kesalehan, dan keahlian Raja’ bin Haywah, sehingga mereka mengangkatnya sebagai wazir, mustasyar (penasihat), dan pendidik anak-anak mereka” (Ibn ‘Abd al-Hakam dalam Sirah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz)

Kita memenangkan peperangan ini karena dukungan orang-orang seperti Raja’ bin Haywah” (Muhammad bin Maslamah, Pemimpin Tertinggi Pasukan Bani Umayyah)

Raja’ adalah seorang tsiqah, ‘alim, tokoh besar, dan berilmu luas” (Ibn Sa’ad)

Aku menjumpai tiga orang hebat yang tidak ada tandingannya: Muhammad bin Sirin di Iraq, Al-Qasim bin Muhammad di Hijaz, dan Raja’ bin Haywah di Syam” (Abdullah bin ‘Aun)

Aku tidak pernah mendapati ulama Syam yang lebih unggul dari Raja’ bin Haywah” (Ibn Syaudzab dari Mathar al-Warraq)

Cukuplah kiranya sedikit dari deretan testimoni para tokoh itu menjadi pijakan awal kita untuk mengenal Raja’ bin Haywah. Namun demikian, memang tidak mudah bagi kita untuk melacak lebih lengkap tentang latar belakang keluarga Raja’. Beberapa literatur hanya menyebut tabi’in bernama lengkap Raja’ bin Haywah al-Kindi ini lahir pada tahun 30-an H di Bisan, Palestina. Selanjutnya, pria yang memiliki kun-yah (julukan) Abu al-Qidam tersebut wafat pada 112 H di Yordan.

Namun demikian, salah satu metode yang bisa digunakan untuk mengenal seorang tokoh ialah dengan mencari tahu siapa saja yang menjadi guru dan murid dari orang tersebut. Literatur menyebut beberapa orang pernah menjadi guru Raja’ ialah Abu Said al-Khudri, Mu’adz bin Jabal, Abu ad-Darda’, Ubadah bin Shamit, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Ummu ad-Darda’, Haywah, dan sebagainya. Sementara itu, di antara orang yang kemudian menjadi muridnya ialah Az-Zuhri, Makhul, Qatadah, Tsaur bin Yazid, Muhammad bin ‘Ajlan, dan banyak lagi lainnya. Jika kita tak termasuk orang yang abai sejarah, nama-nama guru dan murid Raja’ itu tentu kita kenal bukan sebagai orang sembarangan. Sebagian guru Raja’ ialah para sahabat Rasulullah SAW, sedangkan beberapa murid Raja’ merupakan tabi’in dan ulama yang juga tinggi ilmunya.

Sepak Terjang Raja’

Semasa hidupnya, Raja’ pernah berperan sebagai konsultan dan penasihat empat khalifah bani Umayyah, yaitu: Abdul Malik bin Marwan (65-86 H), Al-Walid bin Abdul Malik (86-96 H), Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H), serta Umar bin Abdul Aziz (99-101 H). Peran yang diambil Raja’ ini bukan tanpa halangan. Sebaliknya, pemerintahan pada masa itu pada umumnya—kecuali masa Umar bin Abdul Aziz—tidak sepi dari fitnah. Akan tetapi, walaupun pemerintahan tidak berjalan ideal, ulama dan umara’ pada masa itu tidak berpangku tangan. Kontribusi mereka untuk memberi warna kebaikan sekaligus memperbaiki keadaan patut kita apresiasi. Pilihan Raja’ untuk terjun dalam dunia politik praktis adalah salah satu contoh gemilang.

Berada dalam lingkaran kekuasan tidak otomatis mengubah pribadi Raja’. Justru ia mampu menjadi pembisik kebaikan di telinga penguasa sekaligus penyambung jeritan rakyat. Simpulan tersebut bukan hanya sekadar pemanis kata, tetapi memang menjadi tindakan yang dilakukan Raja’. Mari baca ringkasan kisah yang tercatat dalam sejarah berikut:

Pernah suatu ketika ada pengritik pemerintah yang tertangkap oleh pasukan utusan khalifah. Sang khalifah merasa jumawa akan keberhasilan itu. Ia kemudian memerintahkan si kritikus dibunuh karena dianggap membahayakan stabilitas politik. Belum sempat eksekusi dilaksanakan, Raja’ kemudian berkata kepada sang khalifah, “Tidakkah engkau merasa bahagia dan bersyukur kepada Allah, wahai amirul mukminin? Dengan perantara kekuasan yang Dia berikan kepadamu itu, engkau bisa menangkap orang ini. Lalu, tidakkah kau senang bila Allah ridha kepadamu lantaran engkau memaafkan orang ini?” Sontak sang khalifah berubah pikiran. Ia pun memaafkan dan membebaskan orang yang telah mengritiknya itu.

Lebih lanjut, kedekatan Raja’ dengan khalifah juga tidak mengurangi sedikit pun fungsi dan perannya sebagai seorang ‘alim. Rabi’ah menceritakan, khalifah Abdul Malik bin Marwan pernah menghentikan sejenak bacaan Al-Qur’an-nya seraya berkata kepada Raja’, “Tidakkah engkau jelaskan makna ayat ini kepadaku?” Sekilas kisah ini jelas menggambarkan masih tegaknya posisi Raja’ sebagai orang yang berkapasitas dalam ilmu agama di mata pemimpin tertinggi kaum muslimin.

Bersama Umar bin Abdul Aziz

Seperti disebutkan di awal tulisan ini, Raja’ berperan sangat dominan mengantarkan Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Ada kisah menarik di balik pengangkatan Umar. Ringkasnya, Raja’ bersiasat dengan lihainya sehingga Sulaiman akhirnya menulis nama Umar bin Abdul Aziz bersama Yazid bin Abdul Malik dalam surat wasiatnya sebagai khalifah yang berkuasa setelah dirinya wafat. Lantaran Raja’ pula seluruh keluarga besar Abdul Malik kemudian membaiat untuk taat kepada khalifah yang ditunjuk oleh Sulaiman.

Perlu juga kita catat, bahwa selisih usia Raja’ dengan Umar berkisar 30 tahun. Dengan demikian, Raja’ sepertinya lebih layak disebut sebagai “senior” Umar. Uniknya, jarak usia yang jauh itu tidak membuat keduanya hilang keintiman dalam bersahabat. Baik sebelum atau setelah Umar menjabat sebagai khalifah, Raja’ kerap menginap di rumah sahabat mudanya itu.

Sebagai pelengkap hikayat dua sahabat ini, berikut saya sarikan sebuah kisah yang menarik. Suatu malam Raja’ menginap di rumah Umar. Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba lampu meredup. Raja’ segera berdiri hendak memperbaikinya, namun Umar melarangnya. Kemudian, Umar berdiri dan memperbaiki lampu itu. Raja’ berkata, “Engkau adalah amirul mukminin. Tidak seharusnya engkau sendiri yang memperbaiki lampu itu.” Umar menjawab, “Ketika berdiri, aku hanyalah Umar bin Abdul Aziz dan ketika kembali (duduk) aku juga hanyalah Umar bin Abdul Aziz” (Ibn Khallikan, dalam Wafayat al-A’yan) 

Hikmah Raja’ bin Haywah   

Sebagai seorang yang saleh lagi berilmu, Raja’ telah meninggalkan banyak pelajaran dan hikmah yang sayang jika tidak kita petik. Saya mencatat pelajaran pertama yang bisa kita ambil dari Raja’, seperti telah diungkapan sebelumnya, adalah ihwal keteguhan prinsip dan kedudukan dirinya meskipun berada dalam ring kekuasaan. Fakta ini menjadikan sosok Raja’ perlu untuk diketahui dan diteladani khususnya oleh mereka yang ingin berjihad dengan masuk dalam sistem pemerintahan.

Kedua, sikap zuhud yang menuntun Raja’ untuk tidak menempatkan dunia dalam hatinya. Berbekal sikap ini, Raja’ tidak pernah merasa sengsara saat memutuskan diri untuk tidak lagi terlibat dalam dunia politik usai pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Ibn ‘Aun menuturkan, sebagaimana dicatat Imam al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir, bahwa seseorang bertanya kepada Raja’ setelah ia tidak lagi dekat dengan penguasa, “Mengapa engkau tidak mendekati penguasa?” Raja’ menjawab, “Aku telah dicukupi oleh Dia yang menjadikan alasanku menjauhi mereka.”

Ketiga, semangat pertemanan yang luas dan tak bersekat. Barangkali tabiat Raja’ yang supel inilah yang menjadi bekalnya mudah diterima di kalangan penguasa beberapa generasai Bani Umayyah. Wajar jika kemudian Raja’ pernah berujar, “Siapa yang hanya ingin berteman dengan orang yang bersih dari aib, maka hanya sedikit orang yang akan menjadi temannya. Siapa yang menginginkan temannya selalu tulus padanya, maka dia tidak akan pernah berpuas diri. Siapa yang selalu menyalahkan teman karena kesalahan yang dilakukannya, maka dia akan memiliki banyak musuh.” (dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’’ karya Adz-Dzahabi)

Oleh: Nur Afilin

sci-raja

*Catatan ini dibuat dan dikembangkan berdasarkan pemaparan Ust. Asep Sobari, Lc. dalam seri kajian tokoh peradaban Islam “Profil Raja’ bin Haywah al-Kindi” yang diselenggarakan Sirah Community Indonesia (SCI) pada Senin, 29 Agustus 2016 di Aula INSISTS, Jakarta.