Menjaga Indonesia

indonesia anak

Belakangan ini di rumah kita bersama, Indonesia, kian ribut. Pernyataan yang mengoyak keindonesiaan secara blak-blakan sudah tak terbilang. Belum lagi saling klaim sebagai satu-satunya pemilik rumah dan ingin mengusir yang lain sering pula terdengar.

“Aku yang berhak atas rumah besar ini,” seru si A kepada si B.

“Aku berkuasa, maka enyahlah kau dari sini,” tegas sang penguasa yang berprinsip zero sum game.

Jika terus begini, mungkinkah ke depan Indonesia bisa utuh? Masih bolehkah kita bermimpi Indonesia bisa berperan di kancah internasional? Mari menepi sejenak.

Francis Fukuyama dalam The Trust tak percaya jika kejayaan bangsa adalah buah kemajuan ekonomi an sich. Kata dia, ada faktor vital yang tidak bisa ditawar: modal sosial. Setidaknya, ada tiga modal sosial yang perlu dimiliki sebuah bangsa yang ingin jaya, yaitu sense of belonging, sense of togetherness, trustworthiness/ mutual trust. (Bukan berarti aku tak mau menggunakan bahasa Indonesia, ya, kawan. Aku cuma khawatir kurang tepat mengalihbahasakan istilah-istilah tersebut). Intinya, mental masyarakat dalam hidup berbangsa berpengaruh penting dalam menentukan maju atau mundurnya bangsa tersebut.

Demi mencapai iklim kondusif dalam kehidupan berbangsa itu, kita perlu percaya pada tingkat gagasan kepada sesama anak bangsa. Namun demikian, prinsip saling mengawasi pada tingkat realitas tetap perlu ada demi hukum dan keadilan. Selanjutnya, komunikasi tanpa hambatan dengan sesama anak bangsa hendaknya juga terus dilakukan.

Waktu berjalan. Tak bisa dimungkiri rutinitas itu sering mengundang kebosanan. Apalagi jika kita mulai melihat masih saja ada kekurangan disana-sini. Ingat, butuh tirakat agar tetap cinta. Tahan diri dengan hal yang tidak kita setujui. Jika ada saudara yang lalai dan tidur, pahami itu sebagai puncak makrifat. Untukmu yang sudah beristri, jangan segan ber“jihad akbar” di atas standar dengan menciumnya dalam keadaan yang sudah tak cantik lagi. Ringkasnya, jika mulai ada kekurangan dalam rumah kita, maklumi, nikmati, dan perbaiki. Mengapa demikian?

Coba tengok jauh ke belakang di masa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Seperti diabadikan dalam Alquran, kawanan semut di era tersebut pernah memberi pelajaran berharga ihwal hakikat rumah. Harus ada al-maskanah di dalam rumah. Wujud nyatanya ialah kepedulian. Ya, rumah itu bukan soal bentuk dan keadaan, tapi kepedulian. Ia menjadi penyusun pertama dari sebuah rumah. Kepedulian di dalam rumah akan nantinya akan menandingi kuatnya energi ikat inti besi yang notabene paling besar dalam ilmu Kimia.

Adapun serapuh-rapuhnya rumah ialah rumah laba-laba, demikian Allah sebutkan. Materialnya memang oke punya, tapi tidak ada fungsi kepedulian antara si jantan dan betina di sana. Singkatnya, hubungan lebih berharga daripada situasi.

Kembali ke rumah Indonesia. Sekitar 1946-1950, Sultan Hamengku Buwono IX sudah mencontohkan bagaimana kepedulian menjadi amat penting, apalagi di saat situasi genting. Tanpa pikir lama, Sultan “menampung” Presiden Soekarno dan jajaran menterinya di DIY. Praktis ibu kota Indonesia berpindah ke Yogya. Tak tanggung-tanggung, gaji para pejabat Indonesia yang masih seumur jagung itu pun ditanggung Sultan tanpa hitung-hitungan. Padahal, apa yang dilakukan Sultan itu jelas mengundang amarah penjajah yang hendak menguasai lagi Indonesia. Sultan tak gentar karena ia peduli.

Sebagai penutup, bagaimanapun kebinekaan Indonesia memang suatu hal yang harus diterima (a state of being). Agaknya tak patut jika kita sesali atau sok memperjuangkan kebinekaan.  Ia sudah ada sebagai pemberian dari Allah. Adapun persatuan memang patut terus kita upayakan bersama (a process of becoming) hingga nanti terwujud betul Bhinneka Tunggal Ika.

Depok, 13/8/2017
Nur Afilin

*Catatan ini adalah ringkasan bahasan dalam acara #NgajiBudaya #Sesi4 bertema “Rumah Indonesia, Siapa yang Menjaga?” pada Jumat (11/8/2017) di Jakarta yang menghadirkan Prie GS, Salim A. Fillah, dan M. Sohibul Iman sebagai pembicara