Kisah Sang Perindu: Sebuah Resensi

“Dialah (Nabi Muhammad SAW), sang kekasih yang syafaatnya diharap selalu untuk menghadapi segala petaka yang menerpa. Tuhanku, limpahkanlah shalawat dan salam selama-lamanya kepada kekasih-Mu, sebaik-baik makhluk semua”

Judul: Merindu Baginda Nabi

Penulis: Habiburrahman El Shirzay

Penerbit: Republika Penerbit

Tahun terbit: 2018

Cetakan: Pertama, April 2018

Tebal: iv + 176 halaman

Ihwal kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya sudah masyhur diketahui. Namun demikian, bagaimana kita selaku umat Islam membalas cinta yang demikian besar itu menjadi hal yang perlu terus diupayakan. Tak ayal, saya langsung kepincut ketika mengetahui terbitnya novel Habiburrahman El Shirazy berjudul Merindu Baginda Nabi. Siapa tak kenal penulis yang kerap disapa Kang Abik ini? Novelis kondang Indonesia ini bahkan sekarang menjadi sastrawan pertama dari Asia Tenggara yang mendapat penghargaan dari The Instanbul Foundation for Sciences and Culture, Turki. Nah, mari kita menyimak sekilas ulasan buah tangan jebolan Al Azhar University, Kairo, Mesir ini.

Sekilas Kisah Sang Perindu

Tersebutlah seorang perempuan muda yang masih duduk di kelas XI bernama Syarifatul Bariyyah (Rifa). Bermula dari seorang anak yang ditemukan di pinggir tempat sampah, Rifa kecil ditakdirkan tumbuh bersama orang-orang baik. Salah satunya ialah Pak Nur Rochim, ayah angkatnya. Dibantu oleh istri Pak Nur, Bu Salamah alias Bu Sal, Rifa terus berproses menjadi sosok muslimah yang taat nan cerdas. Salah satu pencapaian tertinggi Rifa ialah menjadi juara olimpiade Sains saat menjalani program pertukaran pelajar di Amerika Serikat 6 bulan lamanya.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah yang sedikit mirip maknanya dengan hadits Nabi tentang agama anak yang dibentuk orangtuanya itu bisa jadi menggambarkan apa yang terjadi pada Rifa. Kehalusan budi, gemilangnya prestasi, serta kokohnya hubungan dengan Ilahi seorang Rifa tak bisa dilepaskan dari sosok Pak Nur. Di tengah kesibukan mengelola Panti Yatim dan Dhuafa sekaligus Pondok Pesantren Darus Sakinah, Pak Nur berhasil mendidik Rifa dengan amat baik. Nampaknya, Pak Nur benar-benar menghayati pesan Mbah Kyai Ridwan kepadanya:

Nur, hidup ini untuk berjuang. Berjuang supaya dekat dengan Allah. Jalan dekat dengan Allah itu bermacam-macam. Yang bermacam-macam itu muaranya akan satu, yaitu ridha Allah, selama ikut caranya Kanjeng Nabi....” (hal. 58)

Namun demikian, dunia ini memang tak hanya dihuni orang baik. Rifa yang demikian baik itu dikisahkan harus dihadapkan dengan teman sekelasnya yang licik dan dengki. Arum namanya. Tak cuma perlakuan tak menyenangkan yang ditunjukkannya pada Rifa, ia bahkan dua kali mendalangi “percobaan pembunuhan” dengan kedok kecelakaan kendaraan. Qadarullah, Rifa ditakdirkan selamat.

Kisah perindu Baginda Nabi lain tergambar dalam cerita Fiona, gadis nonislam Amerika yang menjadi teman sekolah sekaligus saudara selama berada di Negeri Paman Sam itu. Diceritakan bahwa Fiona akhirnya memeluk Islam setelah berkunjung dan merasakan aura ketenangan di Darus Sakinah. Alih-alih ditentang, keputusan besar Fiona malah didukung oleh kedua orangtuanya. Tentu tak ada alasan logis bagi orangtua Fiona untuk keberatan lantaran sudah kepincut dengan laku Rifa selama tinggal bersama mereka.

Lalu, bagaimana akhir cerita Rifa? Akankah ia melanjutkan studi di luar negeri sebagaimana impian Rifa dan harapan orang-orang yang mencintainya? Bagaimana pula akhir kisah rindu Pak Nur pada Nabi? Tentu tidak seru jika semuanya disampaikan dalam ulasan singkat ini.

Plus, Minus, dan Simpulan

Sebagai pembaca karya-karya Kang Abik, saya kembali dibuat kagum dengan buah karya penulis novel pembangun jiwa ini. Seperti deretan karya sebelumnya yang memang mampu membangunkan jiwa pembaca, Merindu Baginda Nabi pun berhasil memberi efek positif bagi saya pribadi. Paling tidak, saya merasa tercerahkan dengan cerita kesuksesan Pak Nur mendidik Rifa. Saya kira semua segmen pembaca novel ini, khususnya orangtua dan guru, akan merasakan pencerahan yang sama usai membaca dengan saksama. Kekhawatiran gagal dalam mendidik anak zaman now boleh jadi akan terobati setelah membaca novel ini. Begitulah nilai positif pertama yang menurut saya menjadi keunggulan novel Merindu Baginda Nabi.

Optimisme pemuda muslim adalah poin lain yang agaknya kembali ingin disampaikan dalam Merindu Baginda Nabi. Melalui sosok Rifa, Kang Abik menunjukkan kepada khalayak bahwa pemuda Islam bisa berprestasi hingga kancah global. Sebagaimana Fahri (Ayat-Ayat Cinta) dan Azzam (Ketika Cinta Bertasbih), sosok Rifa juga digambarkan sebagai sentral cerita yang mengundang optimisme pemuda muslim. Lagi-lagi Kang Abik berhasil menyampaikan pesan baik tanpa terkesan menggurui.

Tiada gading yang tak retak. Kurang lebih demikian peribahasa yang mungkin cocok dalam menilai sebuah karya manusia. Pun demikian dengan novel Merindu Baginda Nabi. Menurut pendapat saya pribadi, setidaknya ada dua kekurangan novel ini, yaitu kesalahan penyebutan nama tokoh dan minimnya variasi shalawat Nabi sepanjang alur cerita. Kesalahan penyebutan nama “Arum” yang seharusnya “Rifa” pada halaman 74 cukup membuat saya terhenti sejenak untuk mencerna maksud penulis. Adapun variasi shalawat menurut hemat saya akan lebih membangkitkan citarasa Merindu Baginda Nabi yang notabene dirancang untuk mengundang para pembaca merindukan Rasulullah.

Namun demikian, saya tetap merekomendasikan novel Kang Abik ini menjadi salah satu koleksi berharga para pembaca. Selain mutiara hikmah ihwal mahabbatur rasul yang terkandung dalam jalinan ceritanya, kita juga akan ditunjukkan pada referensi dan “ilmu baru” yang mungkin belum kita ketahui. Contohnya, penulis menyebut sedikitnya tiga kitab yang menjadi wiridan Pak Nur, yaitu: Al Minah As Saniyyah (Imam Asy Sya’rani), Al-Mabadi’ Al-Fiqhiyyah Juz 2 (Al Ustadz Umar Abdul Jabbar), dan Al-Futuhat Al-Madaniyyah (Syaikh Nawawi Al-Bantani). Tentu menarik bukan jika kita tahu apa isi tiga kitab yang menjadi inspirasi tokoh karismatik macam Pak Nur itu? Akhirnya, selamat memuarakan rindu bersama Merindu Baginda Nabi.    

[/pl_text]
[/pl_col]
[/pl_row]